![]() |
| Oleh : Ziar Zona Zabardi Asli, Mahasiswa UIN Mataram |
Istana itu sekarang sudah tua, terletak di sebelah utara samudra pantai selatan. Kelihatan Reot disamping tebing jalan sebelah kiri di dibawah bukit kering bebatuan. dasar bangunan sudah sedikit jongkok kebarat menanggung beban ketuaan. Tiang emas silau kekuning-kuningan sudah mulai condong dan bergorong seperti orang tua yang memikul beban berat.
Genteng yang terbuat dari ilalang lekang oleh sinar matahari berwarna perak mengkropos dimakan hujan, bolong seperti tropong agak sedikit mengganggu saat tidur ketika datang detakan tajam butiran hujan. Sang raja yang duduk disingga sananya geleng-geleng kepala, melihat dinding yang terbuat dari besi bambu terikat kuat sudah bergambar peta dunia garis lurus prajurit makhluk aneh yang menyerang dinding istananya. Makhluk aneh itu berjalan pelan dan diam-diam sambil mengambil makan siang, menggrogoti bilahan-bilahan bambu.
Raja kepala lima itu sempat berfikir tampak setengah lusuh memperbaiki dinding-dinding tembok pagar yang sudah mulai rusak tempat menggantungkan harapan suatu saat akan dibayar dengan setengah keringat di pelipis matanya yang terbendung turun tersendat karna kulit mulai kriput. Saat ini, istana tidak punya apa-apa selain dari lima kesatrianya. Melihat kenyataan itu raja mulai terusik dan delima dengan pilihannya sendiri antara membangun istana baru atau kerajaan baru..? Raja itu menyadari membangun peradaban mental lebih penting dari sekedar peradaban fisik. Ia terus berjuang seiring runtuhnya kerajaan.
Raja menyapu keringat di pelupuk matanya setengah pelan karna takut debu yang bertebaran masuk kelubang hidung yang sudah mulai manja dengan debu asap dan asma. Maklum ia orang kaya dengan istana keliatan kumuh, raja harus sedikit lebih higenis. Setiap hari kesibukan hanya bernyanyi dan pandai berimajinasi. ia bernyanyi menghibur diri dari hiruk pikuk kehidupan lima kesatria dambaanya belum pulang dari latihan pendidikan perang.
Raja tidak pernah patah semangat dan terus bersabar menunggu lima buah hatinya. Ia memimpikan suatu saat nanti lima butir emas harta kekayaannya itu bisa menghiasi dinding-dinding istana yang mengelilinginya dimasa tua.
Raja tua tubuh pendek, kumis tebal, brewok lebat, tidak suka mandi, raja lima pulahan tahun itu mulai resah.
Ia mulai gelisa memikirkan nasib dirinya dan istana yang tidak aman. ia terus bersyair lewat pantun yang selalu diberikan kepada anak-anaknya, makanlah-makanan yang belum ada jangan makan makanan yang sudah ada, berfikirlah sebelum berkata dan berbuat bahwa jangan memandang sesuatu yang sudah ada di depan mata kita, ia harus selalu mencari dan berusaha dan berfikir sebelum bertindak agar tidak salah kafrah. Raja itu berimajinasi serta berfikir gila untuk menjadikan kerajaannya istimewa.
Sudah terlalu tua ia bekerja, tak ada waktu untuk perbaiki istana. Ada niat, tapi ia sedang menunggu sang ratu Karna raja tanpa ratu istana tidak akan bermakna apa-apa. Ratu pun tidak luput memberikan motivasi dan membangkitkan semangat kepada raja. Ia sosok yang tangguh dan pantang menyerah mengarungi sulitnya samudra kehidupan bersama raja. Dengan sepetak tanah harapan dan sebongkah berlian keyakinan ia berikan ke lima sang ksatrianya sembari menunggu pulang bersama raja untuk melihat istanannya yang sudah menjadi kenangan.
Ia sekarang sejarah, sejarah usang dari kediaman para pejuang. Merintih kesakitan dari ejekan sekian banyak bisikan orang. Darinya, lima orang kesatria pulang dinantikan penuh dengan kesabaran dan ratapan hati. Istana itu sekarang kenangan masa lalu dari jeritan hati dan lilitan hutang raja dan ratu untuk para pendekar kesuksesan.
