Beranda Tentang Kami Kaderisasi Advokasi & Gerakan KOPRI Mataram Kontak Cabang
Artikel Opini PMII

Libido Politik

Diterbitkan: November 05, 2019 Oleh: Redaksi

Oleh: Soekarno el-Fadhil Dahlanisme

Opini : Oh nafsu, hasrat menggapai kedudukan tiduri diri di batas khayalan. Mana mahkota raja yang diukir di atas tahta langit ke tujuh terbuai angan belaka. Syahwat politik membabi buta meraih asah di senayan sana, dogma harga diri dibuang dengan harta melimpah ruah.

Begitu tinggi gairah politik dengan sabda sang maha bisa, rupiah sangat berharga akan wibawa yang dibangun pada rakyat biasa agar kharisma ditonton di muka dunia.
Hai para bedebah, jangan hanya pandai berdebat perkara politik sesaat, jika datang keluhan rakyat maka perhatikan sengsara hidup di bawah jambat.

Tetua adat perwakilan rakyat menebar janji tak punya bukti,
mana ada investasi sosial jika suara dibayar uang penutup hutang.
Syahwat politikpun membabi buta tak kenal kalangan remaja, muda, ataupun tua, karena kepentingan menitip nama dalam struktur penguasa.

Preman berjubah berfatwa soal agama hingga ia dijadikan ulama'. Andai peci, sorban, serta pakaian menjadi sorotan bahwa mereka ialah orang yang paling bertaqwa, maka semua kebusukan bisa disulap sekejap mata dengan sentuhan ceramah bermerk propaganda, mencampur baurkan isu Sara pada kepentingan penguasa di Republik Jenaka.

Sabda Nabi dalam sebuah riwayat "Yabi'u Dinahu bi 'Arodin Min al-Dunia" (Menjual Agama demi kepentingan dunia), terbukti dalam sejarah perjalan politik bangsa Indonesia, pada dekade kekinian.
Muncul pemuka Syari'ah, dengungkan pengajian fitnah pemecah belah ummah di depan dinding media masa.
Kyai youtube tebar pesona dipermukaan, memberi ajaran serta ajakan pada jamaah awam Agama, hingga terpesona akan dalil kekerasan menabuh gendang peperangan. Jika saja fondasi Indonesia tidak kuat dengan dogma "Hubbul Wathoni Min al-Iman" (Cinta Tanah Air Sebagaian dari Iman), maka Indonesia sebagai tanahnya syurga, tongkat ditanam tumbuh senjata, hancur berkeping-keping seperti beberapa Negara Islam di luar sana.

Sungguh kejam dunia politik, saudara, sahabat, keluarga bisa saling tikam, menjadi tumbal serta korban, demi sorotan publik membicarakan mereka sebagai tokoh kenamaan.
Sudahilah pertikaian kepentingan siapa sosok negarawan terbaik !. Rajut kembali kebhinekaan, sebab keselamatan Negara dan Bangsa ialah tonggak utama, bukan pada siapa yang berkuasa.

~INDONESIA NEGARA BERAGAMA~