Beranda Tentang Kami Kaderisasi Advokasi & Gerakan KOPRI Mataram Kontak Cabang
Opini PMII Mataram

Dehumanisasi Senioritas

Diterbitkan: Desember 21, 2019 Oleh: Muhammad Wildan
Oleh : Ahmad Halimi Rayon Ibnu Khaldun, Kader PMII Ibnu Khaldun


Opini - Pada hakikatnya setiap manusia adalah makhluk yang memiliki kebebasan, mempunyai hak dan derajat yang sama antara individu yang satu dengan individu yang lainnya dalam kehidupan bermasyarakat. Ini merupakan fitrah manusia yang memiliki derajat yang sama di mata tuhanya. Namun banyak sekali orang lain yang merasa bahwa dirinya memiliki hak dan derajat yang lebih tinggi dari orang lain dengan alasan status sosial mereka lebih tinggi dibandingkan yang lainnya, dan kemudian melakukan tindakan diskriminasi, antara lain adalah rasisme yang burujung pada perilaku-prilaku yang tidak manusiawi. Itulah salah satu tindakan dehumanisasi.

Dehumanisasi bisa diartikan sebagai penghilangan harkat martabat manusia. Dehuminisasi adalah tindakan untuk tidak memanusiakan manusia, dimana ketika seseorang sudah tidak memiliki nilai moral, nilai-nilai kebaikan, dan tak lagi memiliki rasa toleransi terhadap sesama. Yang kemudian akan berujung pada tindakan merendahkan manusia lain tanpa rasa peduli, simpati dan empati sedikit pun.

Dehumanisasi sering terjadi disekitar kita. Bahkan di dunia kampus dehumanisasi juga terjadi. Padahal kampus merupakan sarana belajar, sarana mencari ilmu pengetahuan, yang menjadi bekal seseorang untuk menjadi manusia yang memanusiakan manusia lainnya. Sebagai contohnya adalah di sebuah Organisasi kampus. Tempat berkumpulnya sekelompok orang yang memiliki intelektual, yang di dalamnya terjadi sekat antara yang orang yang lebih dulu masuk organisasi dan orang yang baru masuk organisasi. Yakni antara senior dan junior. Bagi yang lebih tua disebut senior dan yang lebih muda disebut junior. senioritas merupakan budaya peninggalan feodalisme, dimana yang muda harus menghormati yang lebih tua dan menuruti semua yang dikehendaki meskipun kadang bertolak belakang dengan keinginan sang junior.

Senioritas dipakai saat kegiatan masuknya anggota baru dan sesudah masuknya anggota baru. dalam hal ini Junior, mereka ditugaskan untuk melatih dan mendidik Anggota yang baru masuk guna menjadi seseorang yang menghormati orang yang lebih tua. ini merupakan sesuatu yang sangat sangat baik. Dan itu menggambarkan kondisi masyarakat Indonesia bahwa yang muda harus menghormati yang lebih tua.

Senioritas menjadi tameng untuk berbuat tindakan-tindakan sesuka hati, para junior dilarang untuk menyanggah dan memprotes para senior karena alasan tidak punya rasa hormat. Padahal tidak jarang tindakan para senior menyalahi aturan, disaat junior baru ingin menyampaikan pendapat, tidak jarang senior langsung menyanggah dan mematahkan pendapat tersebut dengan kasar karena mereka merasa lebih tua dan mengerti akan semua hal. Sehingga tak asing para senior memandang junior dengan sebelah mata dan menilai junior dari casing nya saja. Banyak senior yang bertindak semena-mena kepada junior karena mereka merasa paling berkuasa dan berujung pada tindakan dehumanisasi. . Ini merupakan salah satu bentuk tindakan dehumanisasi para senior dimana ia menciptakan cara berpikir atau wacana tertentu yang dominan. Bentuk penguasaan yang dilakukan para senior adalah dengan menggunakan kepemimpinan yang dimiliki dan menggaungkan nilai-nilai dalam organisasi, sehingga secara tidak sadar junior yang terhegemoni menyepakati hal yang dilakukan oleh seniornya tanpa melakukan filterisasi terlebih dahulu dan menganggap itu sesuatu yang wajar.

Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu adanya kesadaran pada setiap individu maupun kelompok, kita harus mampu melihat kelas-kelas yang kita tempati sehingga dengan hal itu kita mampu mengetahui eksistensi diri kita. Dengan demikian kita tidak akan pernah menjadi budak kekuasaan orang lain, dan kita tidak terhegemoni dan tidak menghegemoni orang lain Dan menciptakan suasana penuh nilai-nilai dan moral sesuai fitrah kita sebagai manusia.