![]() |
| Agus Mulya Bakti. (PMII Mataram/Ist) |
Karakter bukanlah sesuatu yang dibawa sejak lahir, tidak dapat diharapkan dan diberikan oleh orangtua sebagai satu-satunya penyedia 'karakter baik', juga tidak dapat 'diajarkan' dari buku teks. Karakter dapat terbentuk oleh seseorang atau sesuatu yang dipengaruhi oleh jumlah waktu interaksi dan konten interaksinya.
Semakin banyak waktu yang dihabiskan seorang anak dengan seseorang atau sesuatu, maka akan semakin banyak mereka akan menyerap dan “dibentuk” oleh seseorang atau sesuatu tersebut. “Sesuatu” tersebut dapat berupa TV, video game, ponsel, iPad, atau lainnya. Ada banyak faktor penting yang terlibat dalam pengembangan karakter seseorang, antara lain dari keluarga, organisasi dan sekolah, dan lainnya.
Pendidikan karakter sesungguhnya tidak asing lagi bagi umat beragama. Setiap agama mengutamakan penanaman nilai-nilai karakter yang baik. Umat muslim, memiliki Sang Teladan karakter yaitu Rasulullah SAW. Rasulullah tidak saja memberikan ilmu dalam hal ibadah dan ketaqwaan kepada Allah SWT, namun juga menjadi uswatun hasanah (teladan yang baik) bagi umatnya. Allah bahkan menjamin hal tersebut dengan firman-Nya: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah, suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah. (QS. Al Ahzab: 21).
Ayat ini merupakan landasan dalam meneladani Rasulullah dalam hal perkataan, perbuatan, dan keadaan Beliau. Rasulullah juga bersabda: “innama bu’itstu liutammima makarimal akhlaq” (Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik).
Tugas Rasulullah adalah menyempurnakan karakter mulia dilandasi kasih sayang dengan empat pilar: shidiq (benar), amanah (jujur, bisa dipercaya), tabligh (menyampaikan), dan fathonah (cerdas).
Empat pilar tesebut merujuk kita untuk merekonstruksi kembali karakter yang saat ini semakin pudar dengan cara melumuri diri pada sikap kognitif, interpersonal dan intrapersonal. Sikap-sikap tersebut dapat didapat dari berbagai macam aktivitas salah satunya pada organisasi. Masing-masing organisasi didirikan dengan tujuan dan luaran yang berbeda-beda, sebagai contohnya organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), sebuah organisasi yang relevan untuk menyongsong perubahan karakter diera milenial yang terintegrasi dengan nilai-nilai islam.
PMII hadir dengan berbagai suguhan kompetensi keahlian yang dapat dibagi secara merata diseluruh kader-kadernya. PMII juga hadir untuk meningkatkan kualitas karakter yang mencakup 7 kualitas karakter tertinggi, diantaranya (1) Religius; (2) Mindfullness; (3) Curiosity; (4) Courage; (5) Resilience; (6) Ethics dan (7) Leadership, yang bisa didapat secara instan ketika terus mengikuti proses di PMII.
PMII memiliki beberapa metode dalam mengajarkan banyak hal kepada kadernya termasuk mengajarkan akhlak, diantaranya dengan keteladanan, ceramah, berkisah, diskusi, penugasan, dan metode lainnya. Upaya memperbaiki akhlak inilah yang pada pendidikan zaman modern disebut dengan beberapa istilah, diantaranya dengan istilah pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan nilai, pendidikan karakter, atau istilah lainnya.
Pra-Proses berPMII dimulai dengan memasuki gerbang awal organisasi dengan cara ikut dalam MAPABA (Masa Penerimaan Anggota Baru) dalam proses ini, karakter anggota baru akan dibentuk menjadi religius. Sehingga luaran pasca MAPABA diharapkan mampu serta tetap taat menjalankan kewajiban solat lima waktu. Pasca MAPABA ini pula menjadi awal untuk berproses lebih jauh dalam organisasi PMII seperti PKD, PKL dan masih banyak lagi, tidak lain hanya untuk membentuk karakter baik untuk generasi mendatang yang terintegrasi pada nilai-nilai islam secara berkelanjutan.
Penulis : Agus Mulia Bakti (Ketua Rayon PMII Budi Utomo IKIP Mataram)
