Beranda Tentang Kami Kaderisasi Advokasi & Gerakan KOPRI Mataram Kontak Cabang
Berita Komisariat Opini Rayon

Beredar Video Hayya Ala Jihad, Anak Bangsa Perlu Menjaga Persatuan Dan Kesatuan

Diterbitkan: Desember 01, 2020 Oleh: Redaksi/LF/006/WR


Penulis : Ahmad Halimi(Ketua Biro HAM & advokasi PMII Rayon Ibnu Khaldun)

Opini |“Indonesia adalah negara yang toleran, esktrimis lah yang memutarbalikkannya”. Itulah sebuah kutipan dari Gus Dur yang menggambarkan Indonesia hari ini. Seperti yang kita ketahui, Indonesia dicita-citakan oleh para pendiri bangsa memiliki tradisi negara yang toleran, hal ini menjadikan sebagian besar perbedaan yang beragam di Indonesia berjalan secara terbuka dan dengan beberapa pembatasan. Namun demikian, transisi menuju Indonesia yang toleran  dan penuh persatuan telah ter nodai oleh tindakan oknum yang tidak bertanggung jawab, melalui tindak kekerasan dan ujaran kebencian. Terlebih di era informasi dan komunikasi yang semangat pesat, memudahkan masyarakat untuk menerima informasi secara cepat, baik itu informasi yang jelas kebenarannya dan informasi yang hoax. Sehingga masyarakat akan mudah terpancing dan tidak jarang menimbulkan pertikaian

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin cepat telah merubah peradaban kehidupan masyarakat. Teknologi informasi yang diharapkan menjadi alternatif untuk menyatukan seluruh umat manusia dan menghilangkan segala perbedaan seolah gagal dalam membentuk solidaritas masyarakat yang lebih kuat, yang ada masyarakat menjadi terpecah-pecah, krisis toleransi, dan miskin sikap saling menghargai.


 Memang mungkin teknologi informasi telah menyatukan masyarakat ke beberapa dimensi saja, tapi tidak pada dimensi kemanusiaan. Dimensi kemanusiaan saat ini telah mengalami krisis intoleransi, pertengkaran di berbagai platform media sosial antar individu dan kelompok marak terjadi, bahkan berujung pada konflik yang berkepanjangan. Salah satu isu yang berkembang hari ini adalah beredarnya video suatu kelompok yang mengumandangkan adzan dengan mengganti lafal "Hay ala solah" dengan “Hay ala jihad” sebuah narasi jihad. Hal itu menimbulkan keresahan seantero negeri dan menjadi buah perdebatan berbagai kelompok.


Dalam pandangan agama mengganti lafal adzan boleh dilakukan jika terjadi sesuatu yang sifatnya darurat, seperti adanya serangan wabah. Contohnya di zaman nabi Muhammad SAW, dimana ketika itu Ibnu Umar mengumandangkan adzan di sebuah malam yang dingin, "salatlah kalian di rumah kalian masing-masing" dimana waktu itu Ibnu Umar pernah mendengar bahwasanya Rasulullah Saw pernah menyuruh seorang Muadzin mengumandangkan adzan, setelah Muadzin mengumandangkan "hendaklah kalian solat di rumah-rumah!' dalam sebuah malam yang dingin atau hujan di tengah perjalanan' (HR. Al-Bukhari: 632). 


Oleh karenanya mengganti lafal adzan boleh dilakukan jika ada situasi darurat yang bisa mengancam keselamatan manusia, dalam konteks adzan dengan narasi jihat yang beredar, semua orang akan terheran-heran karena tidak tau sebab sekelompok orang mengganti lafal adzan tersebut. Yang terjadi adalah itu akan menimbulkan perpecahan dan pertikaian sesama anak bangsa. Bagaimana mungkin Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam akan berperang satu sama lain. 


Maka dari itu, menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia perlu di sadari oleh semua pihak, dengan tetap menjaga ucapan atau perilaku yang bisa menimbulkan pertikaian, menghentikan narasi-narasi kebencian, berperilaku yang toleran akan menjadi modal sosial untuk menjaga toleransi antar sesama.