Beranda Tentang Kami Kaderisasi Advokasi & Gerakan KOPRI Mataram Kontak Cabang
Berita Komisariat Opini Rayon

Mahasiswa Dalam Perspektif Das Sein dan Das Sollen

Diterbitkan: Desember 01, 2020 Oleh: Redaksi/LF/006/WR

Oleh: Fauzi ( Kader Rayon Al-Faruq universitas Mataram )


Opini | Mahasiswa merupakan pelajar tingkat tinggi yang memiliki peran untuk menjaga nilai-nilai moralitas dengan menjunjung tinggi kejujuran, keadilan, integritas serta mampu berpikir ilmiah dan kritis. Ia diakui mampu berpikir secara obyektif dan merdeka karena terbebas dari kepentingan apapun selain nilai luhur masyarakat. Mampu berpikir secara ideal akan segala permasalahan karena tidak terikat dengan tendensi kepentingan apapun. Penambahan kata “maha” pada dirinya membuat idealisme harus dijunjung tinggi, itu merupakan kemewahan terakhir dari seorang mahasiswa seperti kata salah seorang pahlawan nasional Tan Malaka. 


Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dewasa ini semakin pesat serta banyaknya ideology pemikiran yang berkembang membuat sebagian mahasiswa tergerus untuk berpikir fragmatis dan politis, apalagi tidak di bekali dengan pemikiran dasar yang kuat untuk menjadi perisai diri menghadapi arus perkembangan globalisasi. 


Cara berpikir yang ideal dan obyektif yang selalu di sebut sebagai suatu kemewahan seakan mulai luntur, mahsiswa dan pemuda seakan sibuk untuk eksis di semua organisasi kepemudaan yang ada tanpa memperhatikan eksistensinya yang berdiri di suatu lembaga . Akibatnya masyarakat hanya di jadikan sebagai sapi perah ( hanya di manfaatkan) , masyarakat yang seharusnya mendapatkan manfaat dari keberadaannya malah menjadi objek untuk melindungi dirinya. 


    Keberadaan mahaiswa idealnya harus menjadi agen perubahan sekaligus  untuk melakukan kontrol dengan hak dan kebolehannya terhadap segala kebijakan pemerintah yang akan berdampak langsung terhadap keberlangsungan hidup masyarakat, selain daripada itu keberadaan mahasiswa juga di harapkan sebagai solusi dari segala permasalahan ditengah keterpurukan masyarakat yang disebabkan oleh kezoliman para elit penguasa. Sikap acuh tak acuh dan tidak mau tau ( Apatis )  juga menjadi salah satu penyebab tidak berjalannya control sosial yang seharusnya menjadi tugas dirinya sebagai mahasiswa sebagaimana yang sudah di jelaskan di atas. 


Harus diakui bersama bahwa perkembangan teknologi seharusnya menjadikan diri lebih produktif, harus mampu mengimbangi perkembangan dengan kemampuan intelektual supaya tidak menjadi gagap ditengah derasnya arus perubahan global. Perpindahan orientasi dari dunia sosial ke dunia maya menambah parah dari kerusakan masyarakat, mereka yang seharusnya menjadi elitnya pemuda justru menjadi sampah masyarakat. Melupakan tanggung jawab sosial dan menjadi pecandu tiktok dan game online. Dalam situasi seperti ini perlu kiranya berbenah diri supaya lebih paham dengan tugas dan fungsinya sebagai mahasiswa, siapa dan harus apa menjadi mahasiswa ini.