Kita sudah memasuki era Disrupstion ( era kacau balau ), era dimana terjadi kekacauan dalam semua hal, politik, agama, pendidikan dan budaya. Sebuah era baru yang menguhunus segala aspek kehidupan manusia. Manusia sebagai makhluk rasional terjerumus dalam bayang-bayang kecemasan. Kecemasan hidup dan kecamatan masa depan, banyak pertanyaan berseliweran di kepala setiap individu. "Aku harus bagaimana? Aku mau jadi apa"? Kecemasan tersebut membuat manusia hilang kendali, tidak terkontrol dan penuh kepanikan. Akibatnya segala hal dilakukan untuk memenuhi dan mencari jawaban atas pertanyaan tersebut.
Adanya bayang-bayang kecemasan tersebut membuat manusia masuk kerap kali masuk terhadap hal baru yang ditawarkan. Mencari kepentingan demi kepentingan pribadi nya. Akibatnya, pengontrolan diri terhadap apa yang seharusnya ia lakukan tidak ada.
Keserakahan akan Hal-Hal baru tersebut merupakan suatu bentuk ekstrem dari apa yang disebut Sigmund Freud sebagai “karakter oral” yang menjadi kekuatan psikis dominan dalam realitas manusia sekarang ini. Semakin ia masuk, semakin tak berdaya dia sebagai manusia. Semakin banyak ia banyak tendensi semakin dalam ia tenggelam sebagai budak yang diciptakan dan dimanipulasi oleh situasi. la salah menafsirkan kecemasannya masa depannya.
Ambil contoh mahasiswa "ketidakjelasan masa depan pasca wisuda" adalah masalah yang semua Mahasiswa mengalaminya. Ketidakjelasan tersebut membuat ia melakukan berbagai cara agar bisa menjadi orang berhasil, masuk organisasi, masuk partai hingga masuk LSM.
Akibatnya ia seakan-akan manjadi domba-domba yang mencari tuan agar bisa bertahan hidup. Saya Teringat sebuah teori dari Martin Heidegger tentang bayang-bayang kecemasan dalam diri manusia. Narasi dan ambisi yang di gaungkan tinggi-tinggi, tapi pergerakan yang berjalan lambat sehingga berujung pada cemas yang tidak berkesudahan. Perlu kita sadari tentang apa yang seharusnya dilakukan, kapan harus melalui dan bagaimana mengelolanya, fokus terhadap satu hal dan konsisten terhadap nya.
Penulis menawarkan sebuah konsep The Philosopy One Point. ( Filosofi satu titik ) Fokus terhadap satu titik dan bangun titik itu tersebut sehingga menjadi besar. Contohnya. Ketika anda ingin menjadi seorang Kepala desa, maka fokuslah membangun modal sosial, ketika anda ingin menjadi wartawan maka fokuslah menulis. Ketika anda ingin menjadi pengusaha maka fokuslah untuk berbisnis. Dengan syarat tanpa harus tergiur dengan kenikmatan luar yang sifatnya hanya sesaat. Karena selama ini manusia tersesat oleh kenikmatan materi yang sesaat, sehingga lupa membangun dan membesarkan titik awal nya.