Tulisan kali ini mungkin tidak relevan untuk menarasikan soal cinta, tampaknya itu terbukti dari penulis sendiri yang tidak berpengalaman dalam hal percintaan dan masih menjadi hamba amatiran. Tetapi penulis sedikit menggelitik melihat dunia percintaan era sekarang ini. banyak ketertindasan, keterasingan dan kegalauan yang terjadi di dalamnya. Oleh karenanya penulis sedikit ingin menguraikan kegelisahan yang penulis lihat selama ini.
Berbicara tentang cinta tentu tidak ada habisnya, ia adalah sesuatu yang abstrak, tidak mudah terjamah dan terdefinisikan, cinta sendiri memiliki banyak definisi tergantung dari sudut pandang masing-masing individu. dalam perspektif Antonio Gramsci, cinta merupakan bentuk lain pengobjekkan terhadap orang lain maupun diri sendiri secara pasrah dalam bahasa Gramsci Hegemoni. Gramsci sendiri melihat cinta sebagai tanda kegagalan seseorang untuk mempertahankan dirinya sebagai subyek. Artinya seorang individu tidak mampu untuk mempertahankan dirinya sehingga ia membutuhkan objek atau orang lain untuk bertahan dalam hidupnya.
Di era sekarang ini, kita bisa melihat ketertindasan orang dalam mencintai. Di sini penulis lebih spesifik dalam konteks pacaran. Gaya pacaran zaman sekarang ini telah menjerumuskan seorang individu ke dalam lembah ketertindasan. Orang yang pacaran akan merelakan dunianya kepada orang yang di cintainya, dalam bahasa sederhana dia akan melakukan apa saja yang di minta oleh pasanganya sekalipun itu berat untuk ia lakukan. Dalam satu kasus misalkan, ada salah satu pasangan yang rela menipu ibunya dengan meminta uang kos tapi di alih gunakan untuk membelikan pasangnya hadiah ulang tahun. Contoh lain, ada seseorang yang merelakan aktivitasnya untuk melayani pasanganya entah itu telponan, kencan, atau aktvitas lain. Yang pada kenyataanya ia tahu bahwa dirinya tertindas, tetapi mau tidak mau harus melayani aktivitas yang di minta pasangannya, katanya Cinta. Apabila Emanuel Levinas Seorang Filsuf Prancis beranggapan bahwa humanisme harus di bangun lewat memposisikan orang lain di atas diri kita, sebaliknya di kasus tersebut ia memposisikan dirinya di atas pasanganya, yang dimana sesusi dengan pernyataan filsuf Jean Paul Sarte yang dimana humanisme harus di bangun dengan memposisikan orang lain di bawah diri kita.
Yang terjadi dalam dunia percintaan era sekarang ini bahwa setiap percintaan selalu menemui bentuk ketertindasan “homo homini lupus” (manusia adalah serigala bagi sesamanya) individu menindas individu lain. Atau orang yang pacaran akan menindas orang yang di cintainya, dan tidak ada pilihan lain menindas atau di tindas menindas berarti mempertahankan diri sebagai subyek, di tindas berarti merelakan diri sebagai obyek yang pasrah. Itulah realitas dunia percintaan yang terjadi hari ini. Ketidakmampuan dalam mencari kesimbangan dalam dunia percintaan membuat seseorang masuk ke dalam lembah neraka seperti yang dikatakan oleh jean paul sarte orang lain adalah neraka.
Untuk terlepas dari belenggu tersebut setiap individu harus memahami eksistensi dirinya sebagai menusia yang memiliki kebebasan. Ia harus memahami secara otentik seluruhnya bahwa manusia adalah mahluk yang eksistensinya mendahului esensinya dan bahwa ia adalah manusia yang bebas yang dalam situasi apapun, pada saat yang sama ia juga harus menyadari bahwa ia tidak dapat menginginkan kebebasan orang lain. Artinya ketika ia memiliki keterikatan dengan orang lain, ia harus menyadari batasan-batasan kebebasan orang yang terikat dengan dirinya, sejauh mana ia akan mampu memerintah atau menyuruh tanpa harus membebani orang yang terikat dengan dirinya.
(Oleh: Ahmad Halimi)
